Sejarah Kerajinan Mebel Ukir & Patung Di Jepara

Kebudayaan dan Kesenian sangat erat hubungannya dengan nilai historis yang berkembang secara turun temurun dalam suatu daerah. Sejarah ini dipertahankan demi menjaga nilai moral dan pegangan hidup di masyarakat. Seperti halnya mebel di Jepara tak lagi sebagai komoditas eksport tapi lebih jauh dari itu sebagai sejarah, tradisi & budaya.

Daftar Isi

Cerita & Sejarah Mebel Ukir & Patung Jepara

Menurut sejarah & cerita yang berkembang dalam masyarakat Jepara bahwa mebel ukir terjadi di masa kerajaan Majapahit yang dipimpin Prabu Bawijaya. Sebagai tokoh utama adalah prabangkara seorang yang ahli melukis dan memahat yang nantinya menjadi awal mula kerajinan mebel ukir & seni pahat di Jepara.

Prabu Brawijaya & Prabangkara

Sejarah Kerajinan Mebel Ukir & Patung Jepara : Diceritkan bahwa dahulu kala ada seorang ahli memahat dan melukis yang mempunyai nama Prabangkara. Prabangkara hidup di masa kejayaan kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Brawijaya.

Mandat Sang Prabu

Karena keahlian Prabangkara dalam memahat dan melukis inilah, Maka Prabu Brawijaya memberikan mandat kepada Prabangkara untuk melukis Permaisuri Brawijaya tanpa busana atau telanjang untuk mengungkapkan rasa cinta yang paling dalam kepada sang Permaisuri karena kecantikannya.

Melukis Dibalik Tabir

Kesulitan bagi Prabangkara karena harus melukis Permaisuri dengan tertutup tabir atau hijab seperti yang diperintahkan Sang Prabu Brawjiaya. Mendapat mandat tersebut Prabangkara segera melaksanakannya meskipun dengan segala hambatan dan kesulitannya, Prabangkara dapat meyelesaikan lukisan itu dengan sangat cepat dan bahkan sempurna. Setelah lukisan jadi tak sengaja ada seekor cicak yang membuang kotoran dan jatuh tepat di lukisan Prabangkara.

Kemurkaan Sang Prabu Brawijaya

Sang Prabu Brawijaya sangat senang dengan hasil lukisan Prabangkara. Akan tetapi Sang Prabu mencurigai Lukisan tersebut. Kecepatan dan Kesempurnaan dalam menyelesaikan lukisan juga terlebih ada tanda yang tersimpan sangat rahasia dalam bagian tubuh Permaisuri yang terdapat dalam lukisan tersebut padahal Sang Premaisuri dalam dibalik tabir. Bentuk dan posisi tanda alami itu juga tepat sempurna persis dibagian tubuh Permaisuri. Karena kotoran cicak itulah yang tidak sengaja membuat tanda alami dan rahasia dari Permaisuri.

Hukuman Prabangkara

Akhirnya dengan segala cara Sang Prabu hendak melenyapkan Prabangkara karena kecemburuannya. Diikatnya Prabangkara dalam Layang Layang beserta lengkap dengan alat pahatnya. Setelah Layang layang terbang ke angkasa, segera Sang Prabu memutus tali layangan yang berisi Prabankara dan peralatannya.

Desa Belakang Gunung

Prabangkara melayang layang tak tentu arah dan pada akhirnya layangan tersebut jatuh di belakang gunung di daerah Jepara. Desa Belakang Gunung itu kemudian dikenal dengan desa Mulyoharjo. Desa Mulyoharjo terkenal dari jaman dulu dengan desa pengukir dan pemahat, banyak para ahli pahat dan ukir yang berdomisili di desa belakang gunung itu. Keahlian dari masa ke masa, generasi ke generasi tetap dipertahankan sebagai bentuk menghormati leluhur dan norma sosial yang terjaga.

Patih Badarduwung

Selain cerita rakyat itu, ada beberapa cerita rakyat yang memperkuat Branding Mebel Kerajinan Jepara, Dikisahkan juga pada jaman atau masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, hidup seorang patih bernama Sungging Badarduwung yang ahli sebagai Pemahat juga. Patih Badarduwung konon berasal dari Campa atau sekarang dikenal dengan negara Kamboja. Peninggalan dari Patih Badarduwung ini masih terlihat dan dapat dinikmati di lokasi Masjid Mantingan Jepara dan Makam Ratu Kalinyamat yang sudah ada atau dibangun di abad XVI.

Runtunya Kerajaan Majapahit

Keruntuhan Kerajaan Majapahit membuat para seniman dan pemahat Hindu ke berbagai daerah pada pertengahan abad XVI. Dalam perkembangannya para seniman tersebut tetap mempertahankan keahliannya serta beradaptasi dengan lingkungannya.

Akulturasi Seni Ukir & Pahat

Akulturasi Seni pahat Hindu dengan budaya lokal setempat berkembang dalam berbagai konsep seni ukir dan pahat. dari Akulturasi tersebut muncul serangkaian bentuk Motif dan Relief Ukir atau Pahat yang baru seperti Motif Padjajaran, Majapahit, Mataram, Bali juga Jepara yang tetap exist dan diaplikasikan kedalam bentuk Furniture, Mebel Juga Kerajinan Patung & Ukir di Jepara. Sama halnya akulturasi atau percampuran seni mebel pada sofa tamu jati

The World Of Carving Centre

Makna Filosofi Ukiran Furniture Jepara

Dari situlah kenapa seni ukir dan seni pahat Jepara mendapat tempat tertinggi di Indonesia bahkan Luar Negri dengan julukan The World Of Carving Centre dari UNESCO. Faktor history, norma sosial dan SDA ditempa secara turun temurun menjadi pembuktian bahwa Furniture Mebel, Kerajinan Ukir dan Seni Pahat Patung Jepara tidak bisa tergantikan selain juga Faktor Ekonomis.Karena itulah Kami Jepara Art Furnicraft sebagai penerus dari legenda Ukir & Pahat Jepara ikut berpartisipasi dan melestarikan Kesenian Dan Kebudayaan daerah Jepara. Kami merangkul segala komponen masyarakat dan para perajin kerajinan Mebel Ukir Jepara untuk berkontribusi demi meningkatkan kesejahteraan hidup.

1 Comments

  1. Kita harus mewariskan keahlian ukir atau mebel kepada generasi .. Kita ..tetap mengukiir . semangat untuk kalian yang menekuni ukiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Copyright © 2024 Jepara Art Furnicraft – Toko Mebel Jati Jepara Terpercaya